ss_blog_claim=1fe4a354e22181a6d597adc887e94b8d

Archive for August, 2009

Bahkan Seorang Anak Berusia 7 Tahun Melakukan Yang Terbaik

Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.

“Aku tidak akan menikah lagi,” kata Sherri kepada ibunya. “Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia”. “Kau tidak perlu menyakinkanku,” sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. “Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya.”

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.

Read the rest of this entry »

Dua Orang Ibu dan Seorang Bayi

Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil yang masih asri di Tiongkok, hiduplah dua orang bersaudara dalam rumah yang sama. Kedua istri mereka sedang mengandung. Wanita yang lebih tua mengalami keguguran, tetapi tidak memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Ketika keduanya mengurung diri dalam kamar tertutup dan wanita yang lebih muda melahirkan seorang anak lelaki, wanita yang lebih tua mencuri sang bayi di waktu malam.

Selama tiga tahun, kedua ibu ini memperebutkan sang bayi, masing masing mengaku bahwa bayi tersebut anaknya. Akhirnya masalah itu diajukan kepada bupati di dearah tersebut.

Setelah mendengarkan pembelaan masing – masing , sang Bupati mengatakan : “Karena hanya ada seorang bayi, saya tidak melihat bagaimana mungkin saya memberikannya kepada salah seorang dari anda berdua. Hal terbaik yang mungkin saya lakukan hanyalah memotong sang bayi menjadi dua. “Silakan masing – masing mengambil setengahnya”
Wanita yang lebih tua tersenyum dan segera menjawab, “Tuan, saya menerima keputusan tuan”. Akan tetapi, adik iparnya menangis dan memohon kepada sang bupati dengan mengatakan, “Saya mohon, tuan, jangan memotong bayi ini, biarlah dia mendapatkan bayi ini”

Read the rest of this entry »

Kejarlah Rejeki Dengan Menikah

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur (24) : 32)

Pada suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang lelaki. Lelaki ini mengaku dirinya miskin. Kemudian ia minta jalan keluar agar terlepas dari kemiskinan. Rasulullah SAW tanpa banyak pikir lagi langsung saja menyuruh lelaki itu menikah. Lelaki ini sangat senang dengan solusi yang diberikan Rasulullah. Dengan keyakinan yang mantap (karena ini titah Nabi) akhirnya lelaki itu nikah.

Setelah sekian lama menikah lelaki itu datang lagi pada Rasulullah SAW dan mengadukan nasibnya, “Ya Rasulullah saya sudah menikah tapi masih tetap miskin juga, bagaimana ya Rasul…?” “Nikah lagi,” jawab Rasulullah SAW singkat. Si lelaki tak banyak bertanya lagi. Ia tsiqah (percaya) pada Rasulullah SAW. Sebab tak mungkin Rasulullah SAW mau menjerumuskan ummatnya. Akhirnya lelaki itu menikah lagi dengan gadis lain.

Read the rest of this entry »

Ketika Cinta Harus Memilih

Tidak semua perjalanan menuju ke jenjang pernikahan mulus, awalnya ada perbedaan persepsi/pandangan antara keinginan anak dan keinginan orang tua, sehingga tak jarang pernikahan yang akan diarungi membutuhkan perjuangan. Bagaimana pernikahan itu dapat diwujudkan, merupakan keputusan yang harus dipikirkan masak-masak oleh seorang muslimah karena menyangkut aspek diri dan keluarganya.

Hal di atas bisa terjadi disebabkan sudut pandang antara anak dan orang tua tidak sejalan, mungkin akibat pola asuh orang tua yang tidak membiasakan keterbukaan sehingga anak tertutup, takut berkomunikasi sehingga dirasakan enak untuk menyampaikan keinginan masing-masing, kurangnya pengetahuan agama masing-masing pihak, dan lain-lain. Kita lihat perbedaan pilihan keputusan dua orang akhwat di bawah ini dalam menyikapi orang tuanya.

Nina (19 tahun), baru duduk di bangku awal kuliah. Ia memilih memutuskan akan nikah diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua, mengikuti ajakan teman kuliahnya. Mereka memperkirakan pernikahan tersebut pasti ditentang orang tua karena masih sama-sama kuliah dan tergantung pada biaya orang tua.

Lain lagi sikap Tia (23 tahun), masih kuliah semester akhir. Walaupun ia ingin mewujudkan keinginannya untuk menikah, ia merasa harus bersikap lebih adaptif dengan orang tua. Masih mencoba untuk menyampaikan pandangannya tentang status/kemampuan calonnya. Ia tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan tanpa mencoba terlebih dahulu terbuka pada orang tua dengan menyampaikan sebijak mungkin dan dengan segala sikap hormat.

Read the rest of this entry »

Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah at barang sekejap, Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, Tubuh letih istri Anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tenang dia? Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Read the rest of this entry »