Archive for September, 2009
Menyucikan Hati Yang Berkarat
Sep 11th
Rasulullah SAW Bersabda, “Sesungguhnya hati bisa berkarat dan untuk menyucikannya adalah dengan membaca Alquran, mengingat kematian, dan menghadiri majelis-majelis zikir”.
Hati dapat berkarat. Untuk mencegahnya adalah dengan cara sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah SAW. Jika tidak, hati dapat berubah menjadi hitam karena jauh dari cahaya-Nya; menjadi hitam karena kecintaan terhadap dunia dan berkutat padanya tanpa disertai sikap wara’. Sebab, barangsiapa yang di dalam hatinya ada kecintaan pada dunia, akan hilanglah sikap wara’- nya, sehingga dia akan menyatukan antara perkara yang halal dengan yang haram. Pada saat itu, dia tidak bisa lagi memilih dan memilah, serta hilanglah rasa malu pada Allah Azza wa Jalla, dan pengawasan-Nya.
Wahai kaum Muslim, terimalah nasihat dari Nabi dan sucikanlah hati kalian yang berkarat dengan obat yang telah disebutkan untukmu. Seandainya salah seorang di antara kalian sakit dan dokter merekomendasikan sejumlah obat untuknya, maka obat-obat itu tidak akan memberikan kehidupan kepadanya hingga dia mau memanfaatkan obat tersebut. Hendaklah kalian merasa diawasi oleh Allah SWT, baik di dalam kesendirian (khalwat) ataupun di tengah keramaian. Hendaklah engkau menjadikan matamu seolah-olah melihat-Nya. Apabila tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Allah SWT melihatmu. Barangsiapa yang mengingat Allah Azza wa Jalla dengan hatinya, maka dia benar-benar telah mengingat-Nya. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak mengingat-Nya dengan hatinya, berarti dia tidak benar-benar mengingat-Nya. Sebab, lisan adalah anak kandung hati. Lisan mengikuti hati. Hendaklah kalian membiasakan diri untuk mendengar berbagai nasehat. Sebab, bila hati kosong dari berbagai nasehat, ia akan buta. Hakikat tobat adalah mengagungkan perintah Allah Azza wa Jalla dalam seluruh keadaan.
Pahamilah Istri Kita
Sep 6th
HIKAM:
‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 25:74)
Pernah suatu hari penulis pulang dari luar kota. Dalam perjalanan terbayang nanti dirumah akan disambut oleh istri dan anak-anak yang berwajah ceria serta terhidang makanan siap santap, maka dibela-belakan untuk tidak makan dalam perjalanan pulang walaupun lapar. Tatkala tiba dirumah, angan-angan yang indah diperjalan buyar tatkala melihat realita yang sebaliknya.
Inilah salah satu gambaran peristiwa kehidupan berumah tangga dan masih banyak lagi peristiwa lainnya yang mewarnai nuansa kehidupan berumah tangga setiap anak manusia. Mungkin ketika kita akan menikah terdetik dan terangan dipikiran kita bahwa calon istri kita adalah seorang wanita yang sholehah dan paripurna, dan itulah idola setiap muslim. Namun tatkala bahtera kehidupan mulai meninggalkan dermaga untuk mengarungi lautan kehidupan berumah tangga, deburan ombak mulai menghantam sisi-sisi bahtera dan menggoncang kestabilan perjalanannya. Disaat itulah kita mulai mengetahui akan jati diri istri kita secara transparan. Dari situlah kita mengetahui hakekat sifat fitriah yang dimilikinya. Dan dari situlah kita memulai untuk memformat langkah-langkah kehidupan pada paruh perjalanan kehidupan yang kita akan lalui. Inilah seni kehidupan dan dari sinilah dimulai kehidupan yang hakiki.
Calon Suami Lebih Muda, Kenapa Tidak?
Sep 1st
Budaya di masyarakat kita yang masih diwarnai warisan norma-norma yang cenderung konservatif tidak semuanya harus dianggap mutlak dan harus tetap berlaku dimasa sekarang ini. Perbedaan masa dan rentang waktu serta perubahan iklim budaya sebenarnya juga tidak perlu ditolak selama masih dalam koridor kewajaran tata nilai agama. Soal pernikahan misalnya, para orang tua selalu beranggapan bahwa dengan alasan kedewasaan, kebijaksanaan dan juga soal kepatuhan seorang istri terhadap suami, maka calon suami haruslah lebih tua usianya dari calon istrinya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika kemudian diketahui usia pasangan orang-orang tua terdahulu sering kali terpaut jauh antara suami dan istri.
Masa berlalu, zaman berubah dan aturan-aturan yang berlaku pun mulai bergeser meski juga tidak menyalahi norma yang tetap dianggap baku. Mulailah kemudian trend yang berkembang adalah pernikahan dengan usia yang relatif sama. Meski tidak selalu, tetapi biasanya proses ini dimulai dari kesamaan visi, kesamaan jenjang pendidikan, pekerjaan atau bahkan hanya bermula dari pertemanan semasa di bangku pendidikan. Memang tidak persis sama usia diantara keduanya, dan biasanya terpaut hanya dua atau tiga tahun. Namun kondisi yang demikian masih bisa dibilang relatif sebaya.
Dan kini, warisan norma-norma dari leluhur yang demikian ternyata masih terus dipegang (dipatuhi) kalangan muda -khususnya wanita- bahwa mereka harus mendapatkan calon pendamping, orang yang akan menjadi pemimpin keluarganya dengan salah satu kriteria bakunya adalah usia yang lebih dewasa. Hal ini masih terlihat di masyarakat kita, baik berupa ungkapan-ungkapan yang tersirat, maupun dari profil-profil yang seringkali kita jumpai di berbagai biro jodoh. Ambil satu contoh profil dari sebuah biro jodoh Islami di Jakarta, “Calon yang saya harapkan tidak sekedar yang beraqidah dan berakhlak baik, tetapi juga yang lebih dewasa, bijak dalam bertindak dan bersikap jujur, sholeh …”
Sementara disisi lain, tidak sedikit ditemui pasangan-pasangan yang tidak mempedulikan faktor usia tersebut. Selama ada kecocokan, kematangan dan kedewasaan berpikir dari lelaki yang berusia lebih muda dan yang terpenting, sikap enerjik, penuh semangat dan berjiwa muda dari si wanita, kenapa tidak? pikir mereka.


