Posts tagged santapan rohani
Menyucikan Hati Yang Berkarat
Sep 11th
Rasulullah SAW Bersabda, “Sesungguhnya hati bisa berkarat dan untuk menyucikannya adalah dengan membaca Alquran, mengingat kematian, dan menghadiri majelis-majelis zikir”.
Hati dapat berkarat. Untuk mencegahnya adalah dengan cara sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah SAW. Jika tidak, hati dapat berubah menjadi hitam karena jauh dari cahaya-Nya; menjadi hitam karena kecintaan terhadap dunia dan berkutat padanya tanpa disertai sikap wara’. Sebab, barangsiapa yang di dalam hatinya ada kecintaan pada dunia, akan hilanglah sikap wara’- nya, sehingga dia akan menyatukan antara perkara yang halal dengan yang haram. Pada saat itu, dia tidak bisa lagi memilih dan memilah, serta hilanglah rasa malu pada Allah Azza wa Jalla, dan pengawasan-Nya.
Wahai kaum Muslim, terimalah nasihat dari Nabi dan sucikanlah hati kalian yang berkarat dengan obat yang telah disebutkan untukmu. Seandainya salah seorang di antara kalian sakit dan dokter merekomendasikan sejumlah obat untuknya, maka obat-obat itu tidak akan memberikan kehidupan kepadanya hingga dia mau memanfaatkan obat tersebut. Hendaklah kalian merasa diawasi oleh Allah SWT, baik di dalam kesendirian (khalwat) ataupun di tengah keramaian. Hendaklah engkau menjadikan matamu seolah-olah melihat-Nya. Apabila tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Allah SWT melihatmu. Barangsiapa yang mengingat Allah Azza wa Jalla dengan hatinya, maka dia benar-benar telah mengingat-Nya. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak mengingat-Nya dengan hatinya, berarti dia tidak benar-benar mengingat-Nya. Sebab, lisan adalah anak kandung hati. Lisan mengikuti hati. Hendaklah kalian membiasakan diri untuk mendengar berbagai nasehat. Sebab, bila hati kosong dari berbagai nasehat, ia akan buta. Hakikat tobat adalah mengagungkan perintah Allah Azza wa Jalla dalam seluruh keadaan.
Pahamilah Istri Kita
Sep 6th
HIKAM:
‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. 25:74)
Pernah suatu hari penulis pulang dari luar kota. Dalam perjalanan terbayang nanti dirumah akan disambut oleh istri dan anak-anak yang berwajah ceria serta terhidang makanan siap santap, maka dibela-belakan untuk tidak makan dalam perjalanan pulang walaupun lapar. Tatkala tiba dirumah, angan-angan yang indah diperjalan buyar tatkala melihat realita yang sebaliknya.
Inilah salah satu gambaran peristiwa kehidupan berumah tangga dan masih banyak lagi peristiwa lainnya yang mewarnai nuansa kehidupan berumah tangga setiap anak manusia. Mungkin ketika kita akan menikah terdetik dan terangan dipikiran kita bahwa calon istri kita adalah seorang wanita yang sholehah dan paripurna, dan itulah idola setiap muslim. Namun tatkala bahtera kehidupan mulai meninggalkan dermaga untuk mengarungi lautan kehidupan berumah tangga, deburan ombak mulai menghantam sisi-sisi bahtera dan menggoncang kestabilan perjalanannya. Disaat itulah kita mulai mengetahui akan jati diri istri kita secara transparan. Dari situlah kita mengetahui hakekat sifat fitriah yang dimilikinya. Dan dari situlah kita memulai untuk memformat langkah-langkah kehidupan pada paruh perjalanan kehidupan yang kita akan lalui. Inilah seni kehidupan dan dari sinilah dimulai kehidupan yang hakiki.
Kejarlah Rejeki Dengan Menikah
Aug 16th
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang patut (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur (24) : 32)
Pada suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang lelaki. Lelaki ini mengaku dirinya miskin. Kemudian ia minta jalan keluar agar terlepas dari kemiskinan. Rasulullah SAW tanpa banyak pikir lagi langsung saja menyuruh lelaki itu menikah. Lelaki ini sangat senang dengan solusi yang diberikan Rasulullah. Dengan keyakinan yang mantap (karena ini titah Nabi) akhirnya lelaki itu nikah.
Setelah sekian lama menikah lelaki itu datang lagi pada Rasulullah SAW dan mengadukan nasibnya, “Ya Rasulullah saya sudah menikah tapi masih tetap miskin juga, bagaimana ya Rasul…?” “Nikah lagi,” jawab Rasulullah SAW singkat. Si lelaki tak banyak bertanya lagi. Ia tsiqah (percaya) pada Rasulullah SAW. Sebab tak mungkin Rasulullah SAW mau menjerumuskan ummatnya. Akhirnya lelaki itu menikah lagi dengan gadis lain.
Ketika Cinta Harus Memilih
Aug 11th
Tidak semua perjalanan menuju ke jenjang pernikahan mulus, awalnya ada perbedaan persepsi/pandangan antara keinginan anak dan keinginan orang tua, sehingga tak jarang pernikahan yang akan diarungi membutuhkan perjuangan. Bagaimana pernikahan itu dapat diwujudkan, merupakan keputusan yang harus dipikirkan masak-masak oleh seorang muslimah karena menyangkut aspek diri dan keluarganya.
Hal di atas bisa terjadi disebabkan sudut pandang antara anak dan orang tua tidak sejalan, mungkin akibat pola asuh orang tua yang tidak membiasakan keterbukaan sehingga anak tertutup, takut berkomunikasi sehingga dirasakan enak untuk menyampaikan keinginan masing-masing, kurangnya pengetahuan agama masing-masing pihak, dan lain-lain. Kita lihat perbedaan pilihan keputusan dua orang akhwat di bawah ini dalam menyikapi orang tuanya.
Nina (19 tahun), baru duduk di bangku awal kuliah. Ia memilih memutuskan akan nikah diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua, mengikuti ajakan teman kuliahnya. Mereka memperkirakan pernikahan tersebut pasti ditentang orang tua karena masih sama-sama kuliah dan tergantung pada biaya orang tua.
Lain lagi sikap Tia (23 tahun), masih kuliah semester akhir. Walaupun ia ingin mewujudkan keinginannya untuk menikah, ia merasa harus bersikap lebih adaptif dengan orang tua. Masih mencoba untuk menyampaikan pandangannya tentang status/kemampuan calonnya. Ia tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan tanpa mencoba terlebih dahulu terbuka pada orang tua dengan menyampaikan sebijak mungkin dan dengan segala sikap hormat.


